Site Loader
Print

Tulungagung – Pada hari Senin (12/11) sampai Selasa (13/11) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Tulungagung menyelenggarakan Workshop Metodologi Riset Berbasis Pengabdian. Workshop ini diikuti oleh 135 peserta yang terdiri dari para pimpinan, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan IAIN Tulungagung. Acara dilaksanakan di Aula Rektorat Lantai III IAIN Tulungagung.

Workshop ini digagas untuk memperbanyak penelitian-penelitian dosen berbasis pengabdian. Ketua LP2M, Ngainun Naim, dalam sambutannya mengatakan urgensi riset-riset berbasis pengabdian oleh para dosen.“Sebab secara kelembagaan hal demikian juga dibutukan untuk akreditasi kampus. Bahkan ia mengatakan bakal menerbitkan buku-buku riset bebasis pengabdian”, ujarnya.

Sambutan Rektor IAIN Tulungagung, Maftukhin, yang disebut pengabdian dalam konteks intitusi harus terprogram dan berskema baik serta output-nya bermanfaat. “Riset-riset kita baru sampai pada laporan kerja, alangkah lebih baik jika itu menjadi laporan berbentuk buku atau jurnal ilmiah. Jadi inti dari pengabdian harus ada kontribusi, baik kontribusi bagi keilmuan maupun bagi masyarakat (kemanusiaan).”

Selain untuk menggenjot riset-riset berbasis pengabdian, workshop tersebut dalam jangka pendek untuk membekali para dosen mendampingi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Menurut pemaparan Muntahibun Nafis, Ketua Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M mengatakan, “Workshop ini memang mempunyai tujuan untuk memberikan bekal kepada dosen yang nantinya diproyeksikan sebagai DPL KKN tahun 2019. Bekal yang dimaksudkan adalah bekal terkait konsep, prinsip dan perkembangan pengabdian masyarakat.”

Pemateri dalam workshop kali ini adalah Ahmad Bahruddin dan Mujab dari Serikat Paguyuban Petani Qoryah Thoyibah Salatiga. Ahmad Bahruddin, pemateri workshop yang menjabat Ketua Dewan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah mengabdikan dirinya untuk membangun desa. Saat ini SPPQT anggotanya mencapai 16.348 petani. Dalam penyampaian materi Kang Din, sapaan akrab Bahruddin, berkata, “Banyak hal yang bisa dilakukan untuk perubahan desa tanpa harus melulu berharap kepada negara. Bisa kita lakukan dengan musyawarah dan swadaya masyarakat.”

Apalagi, saat ini anggaran untuk penelitian sudah banyak difasilitasi Negara. Sehingga untuk para akademisi melaksanakan riset berbasis pengabdian sudah bukan hal yang berat lagi. Maftukhin berkata, “Dengan anggaran yang begitu besar seharusnya riset kita juga memperhatikan aspek kemanusiaan bukan hanya sekadar gugur kewajiban dan mengulang-ulang tema lama. Sukur-sukur memberi pengaruh pada kebijakan publik”.

Sebagai akademisi, kita seharusnya belajar dari Bahruddin dan Mujab yang hanya masyarakat biasa dan tanpa sokongan dana dari Negara, namun mampu mengabdikan dan banyak memberi kontribusi pada masyarakat. Dalam penyampaian materinya, Mujab memberi pertanyaan yang cukup menyentil untuk dunia penelitian di kampus-kampus khususnya IAIN Tulungagung. Mujab bertanya, “Bgmn kalau riset tidak ada dana riset? Apakah masih mau riset?”. Pertanyaan yang membutuhkan tindakan nyata dari para akademisi sekaligus pengingat dan penyemangat melakukan pengabdian pada masyarakat.

Post Author: kpi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *